Iklan Facebook & Instagram untuk bengkel mobil

Iklan jalan terus.
Yang masuk cuma nanya "berapa, Bang?"

Yang benar-benar datang cuma dua orang. Sisanya berhenti di kalimat yang sama, dijawab dengan cara yang sama.

Ceritain bengkelmu
Dibalas jam kerja. Nggak ada telpon-telponan jualan.
Bengkel mobil dengan satu unit terangkat, sore hari
Lift kosong jam 2 siang, padahal iklan jalan. Ini yang paling sering kejadian.

Kayaknya kejadian tiap hari deh

Pagi ada chat: "Servis berkala berapa, Bang?" Kamu balas, kirim daftar harga, jelasin paketnya. Dibaca. Nggak ada kabar.

Sore ada lagi: "Bisa nego nggak?" Kamu kasih harga teman. Dia bilang "nanti saya kesana", terus nggak datang.

Iklan jalan tiga bulan. Yang benar-benar datang cuma dua orang. Sisanya habis di chat yang sama, dijawab dengan cara yang sama.

Coba jawab ini, jujur aja

Kalau ada tiga yang kena, masalahnya bukan di fotonya. Kamu cuma belum pernah dikasih lihat angka iklan yang bener.

Servis bengkel nambah karena salah satu dari tiga hal ini

Ini bagian yang biasanya disembunyiin orang yang jualan iklan. Kuberitahu terang-terangan: servis nggak nambah karena iklannya bagus. Servis nambah karena salah satu dari tiga ini gerak.

1. Yang lihat iklan lebih cocok

Bukan lebih banyak yang lihat. Yang lihat adalah orang yang memang mau servis, di radius yang masuk akal. Ini soal siapa yang lihat, bukan seberapa ramai.

2. Yang chat lebih banyak jadi datang

Cara jawab chat, kecepatan balas, harga yang dikasih di awal, dan tawaran jadwal hari itu. Ini nggak nambah biaya iklan sepeser pun.

3. Pelanggan lama balik lagi

Reminder servis berkala ke nomor yang sudah ada di HP-mu. Ini yang paling murah, dan paling sering dilupakan.

Contoh hitungannya, biar kelihatan dari mana angkanya datang. Ini contoh, bukan janji.

Dari 100 chat sebulan:
closing 20%  → 20 servis  (Rp9.000.000)
20% itu angka rata-rata yang saya pakai, bukan yang terbaik yang pernah terjadi

Dari 300 pelanggan lama:
yang balik 8%  → 24 servis  (Rp10.800.000)

Dihitung pakai tiket rata-rata Rp450.000. Kalau tiketmu beda, angkanya beda, tapi cara naiknya sama.

Yang nggak saya janjiin: jumlah servisnya. Saya nggak bisa janjiin kamu dapet 20 servis bulan depan. Yang saya pegang cuma dua angka: biaya per chat, dan berapa chat yang jadi datang. Dua angka itu yang menggerakkan sisanya, dan dua-duanya bisa kamu cek sendiri tiap Jumat.

Kerjaan saya apa

Ponsel di meja kerja bengkel dengan notifikasi masuk
Yang saya urus bukan cuma iklannya, tapi apa yang terjadi setelah chat masuk.

Iklan saya pegang tiap hari. Bagian yang keluar duit tanpa hasil saya matiin minggu itu juga, yang jalan saya biarkan. Iklan yang kena orang luar kota saya kunci ulang.

Cara jawab chat-nya juga saya benahi: kalimat pertama, harga yang dikasih di awal, dan cara nawarin jadwal. Ini yang bikin chat jadi datang, dan nggak butuh tambahan uang.

Konkretnya, empat hal ini yang berubah:

Kalimat pertama Chat "berapa, Bang?" nggak dijawab "silakan datang". Yang dikirim: harga untuk unit yang dia sebut, apa yang termasuk, dan jam yang masih kosong. Orang jadi tahu harus ngapain, bukan disuruh nebak.
Kecepatan balas Dibalas di jam kerja, bukan malam. Chat yang dibalas dalam hitungan menit masih hangat; yang dibalas besok pagi sudah dipakai bengkel lain.
Satu pertanyaan sebelum harga Ditanya dulu unit dan keluhannya. Orang yang merasa ditanya lebih percaya pada harga yang keluar sesudahnya.
Satu kali susulan Yang berhenti setelah dikasih harga disusul sekali, dua hari kemudian, dengan kalimat pendek. Bukan ditelpon, bukan didesak.

Tiap Jumat sore kamu terima satu lembar: keluar berapa, chat masuk berapa, dari chat itu jadi servis berapa, dan satu servis biayanya berapa. Angkanya dari akunmu sendiri.

Harganya

Dua orang berjabat tangan di meja kerja
Saya nggak jual janji servis naik. Saya jual angka yang bisa kamu cek sendiri.

Iklan saya urus tiap hari

Rp2.000.000 per bulan

Iklan dipegang harian. Sebulan 4 materi iklan baru. Tiap Jumat laporan satu lembar. Cara jawab chat ikut saya rapikan. Uang iklannya minimal Rp3.000.000 sebulan masuk ke akun iklanmu.

Iklan urus, kontennya juga

Rp3.000.000 per bulan

Sama kayak di atas, plus 8 materi dan 4 video pendek tiap bulan. Foto unit yang lagi dikerjakan, sebelum-sesudah, dan testimoni pelanggan yang kamu punya.

Yang juga bukan saya yang putuskan: akun aman dari banned. Dua-duanya bukan saya yang putusin. Yang janjiin angka pasti itu biasanya cuma mau dapet duit di depan.

Kenapa tiga bulan, bukan satu

Bulan pertama habis buat benahi akun dan ngumpulin data. Bulan kedua baru kelihatan tuas mana yang gerak. Bulan ketiga keputusannya diambil pakai angka, bukan feeling.

Tagihannya bulanan, dan kamu bisa berhenti kapan aja tanpa penalti. Akunnya tetap punyamu, catatannya juga.

Yang kamu dapat

Laporan Jumat, satu lembar Keluar berapa, chat berapa, jadi servis berapa, satu servis biayanya berapa. Bisa dibaca sambil ngopi.
Naskah jawab chat Kalimat pertama buat chat "berapa, Bang?", cara kasih harga tanpa bikin kabur, dan cara nawarin jadwal hari itu.
Daftar pelanggan buat diingetin Nama dan nomor yang sudah ada di HP-mu, dirapikan jadi daftar reminder servis 6 bulan. Ini yang bikin servis nambah tanpa nambah uang iklan.

Yang sering ditanya

Bengkel saya kecil, masih bisa pakai iklan?
Bisa, asal udah ada pelanggan yang datang walau bukan dari iklan. Kalau lift-mu masih sering kosong karena belum ada yang tahu bengkelnya, iklan cuma bikin duit keluar lebih cepet.

Kenapa bayarnya di depan?
Kerjanya jalan dari minggu pertama. Kalau bayarnya belakangan, saya nagih orang yang udah ngerasain hasilnya duluan.

Uang iklannya masuk ke rekening siapa?
Ke akun iklanmu sendiri. Saya nggak pegang uangnya, cuma akunnya.

Sudah ada yang ngurus iklan, tapi nggak jelas.
Justru itu. Kalau sekarang kamu nggak tahu biaya per chat, berarti yang kamu bayar bukan hasil, tapi kesibukan. Bulan pertama saya tunjukkan angkanya dulu.

Kalau saya berhenti?
Akunnya tetap punyamu, catatannya juga. Yang gantiin saya bisa lanjut tanpa nebak.

Kalau tidak mau chat dulu

Isi empat hal ini. Saya balas lewat WhatsApp, bukan lewat email yang nggak pernah dibuka.

Nggak ada telpon-telponan jualan. Nomormu nggak dibagi ke siapa pun.

Kalau mau mulai

Bilang bengkelmu di kota mana, dan sebulan terakhir habis berapa buat iklan. Saya balas dua hal: iklannya masih layak diterusin atau nggak, dan kalau layak, tuas mana yang harus digerakin dulu.

Kalau menurut saya belum layak, saya bilang belum layak. Lebih baik kamu tahu sekarang, daripada tiga bulan lagi baru sadar duitnya habis buat iklan yang nggak jelas arahnya.

Chat saya sekarang